Minggu, 28 Februari 2010

Korban Longsor Ciwidey Butuh Tenda

Lokasi perkebunan Dewata
Selasa, 23 Februari 2010 | 15:48 WIB


CIWIDEY, KOMPAS.com — Ratusan korban longsor bukit di Perkebunan Teh Dewata, Ciwidey, Jawa Barat membutuhkan tenda untuk penampungan. "Mohon diinformasikan, warga membutuhkan tenda untuk mengungsi," ujar Doni, karyawan perkebunan PT Chakra Dewata di Bandung saat dihubungi pada Selasa (23/2/2010) sore.

Menurut Doni, longsor terjadi sekitar pukul 08.00. Namun, dia belum dapat memastikan tingkat kerusakan dan jumlah korban yang ditimbulkan, termasuk bangunan yang tertimbun longsor karena komunikasi terputus dengan lokasi pabrik. "Kebetulan, sinyal HP di lokasi mati sebab kami punya penguat sinyal, tetapi rusak setelah longsor," kata Doni.

Di lokasi longsor, ada tiga pabrik pengolahan teh, yakni pabrik teh jepang, teh hijau, dan teh hitam. Di pabrik ini, ada ratusan rumah atau bedeng yang dihuni buruh perkebunan.

Pekerja Kebun Teh Eksodus ke Ciwidey

KOMPAS Images/KRISTIANTO PURNOMO
Lokasi bencana tanah longsor di kawasan Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/2/2010). Akibat peristiwa ini sedikitnya 43 orang meninggal dan 28 bangunan tertimbun tanah longsor.

BANDUNG, KOMPAS.com — Musibah longsor di RW 18 Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa lalu, menimbulkan trauma di kalangan pekerja Perkebunan Teh Dewata. Sebagian besar pekerja mengaku takut untuk tinggal dan bekerja lagi di sana, apalagi kawasan itu dinyatakan sebagai daerah rawan longsor.
Saya takut longsor terjadi lagi dan keluarga saya menjadi korban.

Hingga Jumat (26/2/2010) pukul 18.00, 26 jenazah warga Kampung Cimeri yang tertimbun longsor ditemukan. Jumlah warga yang dilaporkan hilang bertambah menjadi 46 orang dari data semula 43 orang. Dengan demikian, masih ada 20 orang yang belum ditemukan.

Sejumlah pekerja menuturkan, peristiwa longsor itu mengagetkan dan tak terduga. Peristiwa tersebut menimbulkan trauma mendalam. ”Saya takut longsor terjadi lagi dan keluarga saya menjadi korban,” kata Rusmana (34), warga Kampung Cimeri. Ia kehilangan bibi dan keponakan dalam musibah itu.

Corporate Controller PT Chakra, Robby Badruddin, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan kelanjutan usaha perkebunan dengan cara apa pun. Ia mengaku bisa memahami kekhawatiran dan trauma pekerja pascalongsor.

Eksodus warga Kampung Cimeri terjadi sejak siang hingga malam hari. Mereka mengangkut harta benda dengan truk.

PT Chakra selaku pengelola perkebunan teh menyediakan truk untuk mengungsikan warga yang sebagian besar menuju Kecamatan Ciwidey. Kampung Cimeri dikosongkan sejak longsor terjadi.

Warga lain, Mamat (29), mengisahkan, masih terdapat retakan di beberapa bagian bukit yang mengelilingi bekas kampung mereka. Retakan selebar 50 sentimeter itu melintang di dekat lokasi longsor dan di titik lain, seperti di areal kebun Datar Kiara, bagian dari Perkebunan Teh Dewata. Retakan itu diketahui Mamat sejak gempa bumi pada 2 September 2009.

Longsor juga mengakibatkan akses masuk ke Kampung Karang Tengah terputus. Warga Desa Tenjolaya berinisiatif membangun jembatan sepanjang delapan meter melintasi Sungai Cimeri agar kampung itu tidak terisolasi. Ada 300 keluarga yang tinggal di Kampung Karang Tengah. (ELD/CHE/REK)
Nasib Korban Gempa: Mengemis, Kedinginan, Sakit…


Nasib Korban Gempa: Mengemis, Kedinginan, Sakit…

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾

214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-baqarah/ 2: 214).


gempa-tasikmalaya

TEMPO Interaktif

Rabu lalu, gempa berkekuatan 7,3 skala Richter mengguncang sejumlah daerah di Jawa Barat. Hingga kemarin, menurut Sigit Udjwalprana, Sekretaris Satuan Koordinasi dan Pelaksana Penanggulangan Bencana Jawa Barat, korban tewas di wilayahnya mencapai 73 orang dan 900 orang cedera. “Korban yang belum ditemukan 34 orang,” katanya. “Mereka tertimpa longsor di Cicangkareng, Cianjur.” (TEMPO Interaktif, Jakarta Senin, 07 September 2009 | 06:11 WIB)

Kata petugas piket harian Satkorlak PB Provinsi Jawa Barat Rano Harjaya, dari jumlah tersebut, korban meninggal, luka-luka, dan hilang paling banyak terdapat di Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong,Kabupaten Cianjur. Dikatakannya,jumlah total rumah warga yang rusak akibat guncangan gempa bumi 7,3 SR di Jawa Barat mencapai 5.000 rumah lebih.

“Jumlah total rumah yang rusak akibat gempa di Jawa Barat mencapai 148.469 rumah, meliputi 5.412 rumah rusak total, 43.239 rumah rusak parah, dan 99.818 rusak ringan,” ujarnya. (nanang kuswara/ujang marmuksinudin/ricky susan/ant) (Harian Seputar Indonesia, Minggu 06 September 2009)

Selain korban tewas dan luka-luka, para korban gempa yang tidak tertimpa apa-apa kini menderita kelaparan, kedinginan karena mengungsi di tempat terbuka (bukan bangunan) dan sakit. Belum meratanya bantuan baik makanan, minuman, obat-obatan maupun selimut mengakibatkan aneka derita mereka rundung.

Gempa itu sendiri menewaskan sejumlah orang di berbagai tempat, ada satu kampong yang terkubur, ribuan rumah, masjid, madrasah, pesantren dan sekolah hancur.

Masyarakat korban gempa yang sedang manjalani ibadah shiyam Ramadhan 1430H ada yang langsung terkubur kena longsoran satu kampong di lereng bukit di Cianjur Jawa Barat, dan korban lainnya di berbagai tempat mereka berbuka puasa dan sahur di tempat pengungsian berupa tenda-tenda darurat. Angin malam pun menerpa, hingga penyakit mencret, sakit pernafasan, bahkan kekurangan cairan karena belum datangnya bantuan pun mereka derita.

Berita-beritanya sebagai berikut:

Gempa Tasikmalaya

Korban Gempa Mengemis di Jalanan



Kelaparan karena tak kunjung mendapat bantuan, korban gempa mengemis di jalanan.

Minggu, 6 September 2009, 14:36 WIB

Indra Darmawan, Yudho Rahardj Gempa Tasikmalaya

VIVAnews - Bantuan gempa ternyata hingga kini belum didistribusikan secara merata. Hingga hari keempat sejak musibah terjadi Rabu 2 September 2009 lalu, masih banyak korban gempa yang sama sekali belum memperoleh bantuan.

“Warga saat ini sangat membutuhkan sumbangan logistik berupa sembilan bahan pokok,” ujar Oyom Sumantri Ketua RT 02 RW 08 Desa Depok Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut, kepada VIVAnews, Minggu 6 September 2009.

Ketua RT 04 Desa Depok juga mengungkapkan hal yang sama, bahwa warga Depok sangat membutuhkan sumbangan bantuan yang belum juga tiba. “Ini musim kemarau, kami terancam kelaparan,” ujar Herman Maher, Ketua RT yang berusia 52 tahun itu. Bahkan, karena kelaparan, kata Herman, akibatnya warga terpaksa mengemis di jalanan.

Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut, merupakan salah satu wilayah yang terkena gempa cukup parah. Di Desa Depok saja, terdapat 483 rumah rusak parah, 455 rumah rusak ringan, 6 masjid dan 4 musholla rusak-rusak, serta 6 bangunan sekolah hancur. Padahal, Kecamatan Cisompet terdiri dari 11 desa.

Menurut Kepala Desa Depok Irwan Dani, hal itu disebabkan oleh tak meratanya distribusi bantuan. “Tidak meratanya bantuan terjadi karena distribusi terkonsentrasi di kecamatan Cikolet (kecamatan di dekat kecamatan Cisompet),” kata Irwan.

http://nasional.vivanews.com/news/read/88141-korban_gempa_mengemis_di_jalanan
Dehidrasi Serang Korban Gempa

By Republika Newsroom

Senin, 07 September 2009 pukul 06:44:00

BANDUNG–Korban gempa di lingkungan Pusat Penelitian (Puslit) Teh dan Kina Gambung Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang belum tersentuh bantuan pemerintah mulai terserang berbagai penyakit. Diantara penyakit tersebut ialah kekurangan cairan (dehidrasi),

Dua dari 174 jiwa korban gempa di dalam tenda pengungsian yang terbuat dari bahan alakadarnya itu, Minggu (6/9), terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung akibat kekurangan cairan itu.

Kedua korban tersebut, adalah Yuyun (48) dan Isak (5). Mereka, menurut keterangan petugas kesehatan setempat, kekurangan cairan akibat terserang cuaca dingin.

Kepala urusan Rumah Tangga Puslit Teh dan Kina Gambung Ir Satidi, menyebutkan kondisi udara Ciwidey yang sangat dingin dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi kesehatan warga yang mengungsi di tenda.

Untuk mengantisipasi serangan penyakit akibat cuaca dingin itu, Satidi mengaku kesulitan, karena untuk membujuk korban agar pindah ke bangunan lain yang bisa melindungi dari sergapan cuaca dingin.

“Diperlukan sedikit kesabaran, mereka trauma jika tinggal di dalam bangunan,” katanya.

Meski demikian, dengan cara yang agak keras, sejumlah warga terutama yang mempunyai bayi dan anak-anak, serta pengungsi lansia, Minggu sore sudah bersedia pindah ke bangunan yang ada di sekitar Puslit Teh Kina Gambung.

Di sekitar Puslit Teh dan Kina Gambung ratusan unit rusak dan lima hancur. Rumah rusak tersebut berada di RW 09 yang berada di Komplek Puslit Teh dan Kina Kalintem, Giriwangi, Barutunggu, dan Giriawas, Kampung Gambung Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu.

Di lokasi korban gempa tersebut terdapat 3.000 jiwa,yang hingga Minggu masih belum tersentuh bantuan pemerintah. Sementara untuk mengantisipasi terjadinya penjarahan barang pasca gempa, warga Komplek Puslit dan Kina Kampung Gambung Ciwidey mengevakuasi barang-barangnya ke rumah warga yang selamat dari gempa.

Satidi mengungkapkan, proses pemindahan barang-barang baik milik warga maupun milik Puslit Teh dan Kina Gambung itu menggunakan enam buah kendaraan yaitu tiga buah truk, dua mobil minibus kijang, dan satu mobil pick up.

Barang-barang warga tersebut dipindahkan ke rumah warga yang tidak hancur akibat gempa. “Rumah di komplek ini tidak semua hancur, jadi barang-barang warga yang hancur, kita pindahkan ke rumah yang utuh untuk sementara,” kata Satidi. ant/itz

http://republika.co.id/berita/74582/Dehidrasi_Serang_Korban_Gempa

Data kerusakan sebagai berikut:

Gempa Tasikmalaya

18.278 Rumah Rusak di 10 Kabupaten dan Kota

Kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Ciamis.

Kamis, 3 September 2009, 10:21 WIB

Ismoko Widjaya

VIVAnews - Gempa 7,3 SR yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, menewaskan 46 orang. Selain korban jiwa, gempa yang terjadi pada pukul 14.55 WIB, Rabu, 2 September kemarin ini mengakibatkan ribuan rumah rusak.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis, 3 September 2009, sampai pukul 08.30 WIB, tercatat 18.278 rumah mengalami rusak.

Dari total jumlah kerusakan itu, sebanyak 8.885 unit rumah rusak berat dan 9.393 unit rumah rusak ringan. Kerusakan rumah itu tersebar di 10 kabupaten dan kota.

Berdasarkan data itu, kerusakan terberrat terjadi di Kabupaten Ciamis, dengan rincian sebanyak 5.085 unit rumah rusak berat dan 6.211 rumah rusak ringan. Sebelumnya, BNPB melansir 46 orang dinyatakan tewas.

Berikut daftar sebaran korban tewas:

1. 10 orang di Kabupaten Cianjur

2. 9 orang di Kabupaten Garut

3. 2 orang di Kabupaten Sukabumi

4. 9 orang di Kabupaten Tasikmalaya

5. 8 orang di Kabupaten Bandung

6. 1 orang di Kabupaten Bandung Barat

7. 2 orang di Kabupaten Bogor

8. 4 orang di Kabupaten Ciamis

Gempa bumi yang terasa di Jakarta ternyata berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Gempa ini terjadi di kedalaman 30 km dari permukaan laut dan berpotensi tsunami.

ismoko.widjaya@vivanews.com

• VIVAnews

http://nasional.vivanews.com/news/read/87409-18_278_rumah_rusak_di_10_kabupaten_dan_kota

Kerugian-kerugian akibat gempa mencapai triliunan rupiah. Berita-beritanya sebagai berikut:

Kerugian Gempa di Garut Mencapai Rp 1 Triliun

Terjangan gempa 7,3 skala Richter (SR) pada kedalaman 30 km di Samudra Hindia atau 142 km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/9), mengakibatkan Kabupaten Garut menderita kerugian mencapai di atas Rp 1 triliun.

Jumlah kerugian menurut hasil penghitungan sementara itu dikemukakan Kepala Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi (Disnakersostrans) setempat, Hj Elka Nurhakimah, ketika dikonfirmasi, di Garut, Sabtu (5/9) siang.

Kerusakan akibat gempa di Garut:

1. 2.925 rumah hancur.

2. 6.864 rumah rusak berat.

3. 3.702 rumah rusak sedang.

4. 14.100 rusak ringan.

5. 179 masjid rusak berat.

6. 59 masjid rusak sedang.

7. 136 masjid rusak ringan.

8. 257 SD, SMP, dan SMA mengalami kerusakan pada 689 ruangan.

9. Sebuah pondok pesantren, kantor kecamatan, beberapa puskesmas, puskesmas pembantu, RSU dr Slamet Garut, atap gedung DPRD, atap beberapa perkantoran di lingkungan Setda Garut serta atap perkantoran swasta lainnya.

http://www.forumkami.com/forum/berita/19593-kerugian-gempa-di-garut-mencapai-rp-1-triliun-waw.html

6/9/2009 1:05 WIB

Kerugian Gempa di Sukabumi Rp 14 Miliar

Iyang Sudiharto - Sukabumi, Kerugian akibat bencana gempa bumi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat lebih dari Rp 14 Miliar, dengan terdiri dari rumah tinggal, sekolah, dan sarana ibadah. Demikian dikatakan Bupati Sukabumi, Sukmawijaya.

Sukmawijaya mengatakan, untuk rumah warga yang rusak, terdiri atas 387 rumah hancur, 4.722 rusak berat, dan 14.000 rusak ringan.

Sedangkan sarana umum, seperti masjid hancur 2 buah, rusak berat 104 buah dan rusak ringan 158 buah.

http://www.elshinta.com/

06 September 2009 | 14:13 | Sosial

Kerugian gempa di sektor pendidikan Rp 40 miliar lebih

Garut - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menyebutkan gempa Tasikmalaya menyebabkan kerugian di bidang pendidikan mencapai lebih dari Rp 40 miliar.

“Terdapat 689 ruang kelas sekolah yang mengalami kerusakan dengan kerugian Rp 40,589 miliar,” katanya, saat dikonfirmasi wartawan ketika melakukan kunjungan kerja di Garut, Minggu (6/9)

Kerusakan yang diderita itu meliputi 154 SD dengan 462 ruang kelas rusak berat, 46 SD dengan 94 ruang rusak sedang serta 43 SD dengan 86 ruang kelas rusak ringan.

Disusul dua SMP dengan 14 ruang kelas rusak berat, dua SMP (10 ruang) rusak sedang dan dua SMP (2 ruang) rusak ringan. Dua SMA (6 ruang) rusak berat, dua SMA(2 ruang) rusak sedang serta tiga SMA (15 ruang kelas) rusak ringan.

Bambang menambahkan telah memerintah Pemda Garut untuk segera merehabilitasi sekolah yang rusak akibat gempa bumi. “Pemeliharaan dan rehabilitasi sarana pendidikan yang rusak, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, kabupaten dan provinsi,” tegas dia, (new/ant) (Portaltiga/Primair)

Kerugian Gempa di Cilacap Capai Rp31,51 Miliar

Sabtu, 5 September 2009 03:40 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 1228 kali

(ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Cilacap (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang berpusat di Samudera Hindia barat daya Tasikmalaya, Jabar pada Rabu (2/9) mengakibatkan kerugian yang diderita masyarakat Kabupaten Cilacap, Jateng mencapai Rp31.510.000.000.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Hari Winarno melalui pesan singkat yang diterima ANTARA News di Cilacap, Jumat malam, menyebutkan, berdasarkan pendataan hingga pukul 21:00 WIB jumlah rumah rusak berat akibat gempa mencapai 801 buah.

“Sementara rumah roboh mencapai 445 unit dan rusak ringan sebanyak 1.446 buah,” katanya.

Selain rumah, kata dia, gempa juga mengakibatkan lima balai desa rusak berat dan satu balai desa rusak ringan.

http://antaranews.com/berita/1252096823/kerugian-gempa-di-cilacap-capai-rp31-51-miliar

KERUGIAN GEMPA Rp 400 M









Friday, 04 September 2009 16:40

Di Tasikmalaya, Sebanyak 300 Sekolah Turut Hancur

Tasikmalaya, (PR).-

Kerugian yang diderita akibat gempa berkekuatan 7,3 pada skala Richter di Kabupaten Tasikmalaya mencapai Rp 400 miliar. Kerugian itu kemungkinan bertambah karena beberapa sarana umum yang rusak belum teranggarkan atau dihitung.

Hal itu mengemuka dalam rapat koordinasi untuk penanganan bencana. Rapat dipimpin oleh Wakil Bupati Hidayat dan Sekda Tasikmalaya Asep Ahmad Djaelani. Rapat memutuskan, dibentuk Satkorlak Bencana Tasikmalaya yang dipimpin oleh Hidayat.

Data saat rapat koordinasi, jumlah korban meninggal dunia di Kab. Tasikmalaya 4 orang, 16 luka ringan, 60 luka berat. Rumah hancur mencapai 3.289 dan rusak biasa/ringan 6.325 unit. Masjid mencapai 103 buah yang hancur, sedangkan sekolah masih terus di data. Sementara madrasah 44 unit, balai desa 17, 6 kantor kecamatan, 1 gedung olah raga, dan 12 pondok pesantren yang rusak.

300 sekolah

Kurang lebih 300 bangunan sekolah di daerah Kab. Tasikmalaya mengalami kerusakan akibat gempa bumi terjadi Rabu (2/9). Di antaranya, 44 madrasah, 237 sekolah dasar (SD) dan 163 ruangan kelas belajar di SMP/SMA roboh atau hancur.

Sekda Kab. Tasikmalaya Asep Ahmad Djaelani didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kab. Tasikmalaya Idi Hidayat, kepada “PR”, Kamis (3/9), bangunan SD yang rusak antara lain di Kec. Salawu 25 sekolah, Bojonggambir 21 sekolah, Cigalontang 30 SD, Bantarkalong 22 SD, Cisayong 31 SD, Cibalong 27, Kadipaten 12 dan lainnya.

“Hasil pendataan yang kita lakukan, ternyata kerusakan bangunan sekolah luar biasa besar. Kondisi ini, cukup mengagetkan kita,” kata Sekda Asep Ahmad Djaelani.

Ciamis dan Majalengka

Pada tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Ciamis, Akasah mengungkapkan sebanyak 23 SD , 5 SMP, 11 SMA dan 7 SMK , seluruhnya rusak berat. Kerusakan paling parah adalah SD 2 Purwadadi, kecamatan Purwadadi. Sebanyak enam lokal kelas roboh.. (A-97/A-101/C-31)*** (diringkas dari Harian Pikiran Rakyat, Jum’at 04 September 2009)

Senin, 22 Februari 2010

RS Swasta Rame-rame Tolak Keluarga Miskin

Pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin (gakin) di rumah sakit swasta (RS) terancam terabaikan. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ternyata gagal melobi 30 RS swasta agar mau melayani pasien dari gakin.

Dari 48 RS yang ada di Surabaya, hanya 18 RS yang mau melakukan kerja sama dengan pemkot untuk menampung warga gakin. Berarti, ada sekitar 30 RS yang tidak mau menjalin hubungan dengan pemkot. Kondisi ini mencerminkan kalau pemkot tidak serius melakukan kerja sama untuk kepentingan warga miskin.

..."Saya heran kenapa pemkot tidak bisa melakukan kerja sama, kasihan warga"kata Ketua komisi C DPRD Surabaya, Sachiroel Alim.

Seharusnya, dengan keengganan RS melakukan kerja sama, pemkot bisa melakukan penekanan supaya kerja sama terjalin.Namun yang terjadi, pemkot seolaholah tidak mau tahu.“Saya heran kenapa pemkot tidak bisa melakukan kerja sama,kasihan warga,”kata Ketua komisi C DPRD Surabaya, Sachiroel Alim kemarin.

Alim menyatakan, dari informasi yang berhasil dikumpulkannya, dari 48 RS di Surabaya, hanya 18 yang bersedia bekerja sama.Itu pun salah satu RS akan menarik diri. Penolakan ini menimbulkan dua kemungkinan.Pemkot Surabaya tidak serius atau memang RS yang bersangkutan sengaja tidak mau melakukan kerja sama.

Persoalan ini, lanjut Alim, seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat. Upaya untuk memperbarui kerja sama harus dilakukan.Jangan hanya diamdanmenungguketikaada penolakan. “Kalau dibiarkan,warga gakin akan semakin tersiksa,” ungkapnya. Alimmenuturkan,pelayanan bagi gakin harus diprioritaskan. pusat juga mendukung pelayanan bagi warga tak mampu.

Yang penting, warga gakin memenuhi semua persyaratan yang ada misalnya memiliki kartu gakin atau menunjukkan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Esty Martiana Rachmie mengakui ada penolakan kerja sama dengan RS. Menurut dia,pihaknya hanya memberikan penawaran secara langsung pada RS-RS yang ada.

“Kami hanya menawarkan, tetapi tidak semua sepakat,”katanya. Esty mengaku, dari kerja sama yang dijalin, ada salah satu RS yang bakal mengundurkan diri. Namun dia mengaku akan melayangkan surat kembali supaya kerja sama yang dijalin selama setahun bisa dijaga. Setelah setahun, Dinkes akan menawarkan program pelayanan kembali.“Dalam waktu dekat kita akan mengundang RS kembali,” ungkapnya.

Wanita berjilbab ini menuturkan, jika ada RS mundur kemungkinan karena harga yang tidak cocok. Sebab Dinkes mematok harga pelayanan ini disesuaikan dengan Jamkesmas. Kendati ada penolakan, Esty mengaku tidak bisa mengeluarkan sanksi, karena tidak ada aturan di dalamnya.“Kalau tidak ada aturan kita tak berani mengeluarkan,” ucapnya.

Nabi Sangat Sayang Dengan Orang Miskin

PADA suatu hari, ketika Rasulullah SAW tiba di halaman masjid, seorang Arab Badui mencegat beliau seraya berkata: “Ya Muhammad. Berikanlah pada ku harta Allah yang ada pada mu”. Bagaimana sikap Nabi Mulia itu?. Karena pada waktu itu Nabi SAW hanya memiliki jubah yang dipakainya, lalu dengan senyum Rasul SAW melepas jubah yang dikenakannya dan dengan tulus beliau berikan kepada lelaki itu.

Rasulullah SAW memang terkenal senang bergaul dengan para fakir miskin. Sikap beliau itu diikuti oleh para sahabat. Kenapa maka mereka bersikap demikian?. Sebab satu hadis Qudsi mengatakan: “Carilah karunia Allah dengan mendekati orang yang dekat dengan orang miskin. Karena pada merekalah Aku jadikan keridhaan-Ku “, sehingga dalam satu hadis Rasulullah SAW. bersabda: “Segala sesuatu itu ada kuncinya dan kunci surga itu adalah mencintai anak yatim dan orang-orang yang miskin” (HR.Daruthni dan Ibnu Hiban).

Beberapa hari sebelum wafat, Nabi Muhammad SAW menunjukkan tanda-tanda khusus yang belum pernah disaksikan oleh para sahabat. Misalnya, beliau sering berbicara tentang keindahan surga. Satu ketika sambil bercerita beliau mengulurkan tangannya seperti hendak mengambil sesuatu, tapi kemudian ditariknya lagi. Ketika ditanya para sahabat maksudnya.

Nabi Mulia SAW ini menjawab: “Aku melihat surga dan aku menjangkau setangkai anggur. Jikalau aku mengambilnya, kalian baru dapat menghabiskannya selama umur bumi ini.” Tanda-tanda khusus lain di hari-hari akhir Rasulullah SAW makin tampak ketika beliau ditanyai oleh para isterinya: “Siapa diantara kami yang pertama kali akan menemui Anda kelak?”. Dengan suara menggetarkan hati Nabi SAW. menjawab: “Tangan siapa diantara kalian yang panjang, itulah yang lebih dahulu menemui ku.” Mereka lalu saling mengulurkan tangan masing-masing dan membandingkan satu sama lain.

Dugaan mereka Saudah lah yang akan dulu wafat, karena tangan Saudah lah yang paling panjang. Sebab dialah diantara isteri Nabi SAW yang paling tinggi dan besar. Sekitar 10 tahun setelah Nabi SAW wafat, ternyata Zainab yang lebih dahulu menyusul beliau. Dialah isteri nabi SAW yang perawakannya paling kecil dan dijuliki “Ibu kaum miskin”, yang pemurah hati. Tahulah mereka bahwa ” tangan paling panjang ” yang dimaksud Rasulullah SAW adalah orang yang gemar memberi sedekah kepada fakir miskin.

Simaklah sikap Ali bin Thalib KW. Suatu saat orang menemukan beliau sedang terisak menangis. Ketika ditanya mengapa gerangan beliau menangis, orang yang penuh kemuliaan itu berkata : “Sudah satu minggu tak ada seorang tamu pun yang datang kepada ku. Aku khawatir Allah sedang menghinakan aku”. Dan Ali sangat empati terhadap kaum duafa lebih-lebih ketika beliau menjadi Khalifah.

Menurut sanad dari Iman Ahmad, Ibnu Rafi’ pernah berkata : “Pada suatu hari Id aku menemukan Ali bin Abi Thalib sedang duduk.Di sebelahnya ada sebuah kantung yang diikat erat-erat. Aku mengira isinya pasti perhiasan yang mahal-mahal. Tapi ketika Ali membukanya aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Bungkusan itu cuma berisi roti kering yang maling paling rakus pun takkan mau mencurinya. Kemudian roti itu dilembutkan dengan air. Ketika kutanya mengapa kantung yang cuma berisi roti kering itu diikat begitu rupa? “. Ali menjawab: “Agar anak-anakku tidak membuka dan mengganti dengan roti yang halus dan mengandung mentega.” “Eh, apakah Allah melarang Anda menikmati makanan yang lebih baik?”. “Aku bertanya heran”. “Sama sekali tidak. Aku hanya ingin memakan makanan rakyat yang paling miskin. Aku baru akan mengubah makanan ku setelah aku bisa memperbaiki taraf hidup dan nilai makanan mereka,” jawab sang Khalifah.

Lain lagi halnya dengan Nabi Yusuf AS Ketika beliau sudah diangkat menjadi Bendahara kerajaan dan menjadi semacam Kepala Bulog, beliau berpuasa hampir setiap hari. Ketika ditanya orang mengapa Nabi Yusuf melakukan itu semua, beliau berkata bahwa beliau takut kenyang sehingga melupakan kehidupan orang miskin.

Ali Zainal Abidin, salah seorang cucu Rasulullah SAW, setelah wafat termasyhur sebagai orang yang gemar memikul gandum di malam hari dan membagikannya kepada para fakir miskin di Madinah, tanpa seorang pun mengetahuinya. Jika datang kepadanya seseorang yang sedang ditimpa kesulitan dalam hidupnya dan meminta tolong kepadanya, beliau menyambutnya dengan uacapan: “Selamat datang wahai orang yang berkenan memikul bekal ku untuk hari akhirat.”

Dalam majalah Amanah Nomor: 33 tanggal 9 Oktober 1987 diceritakan mengenai H.Yunan Helmy Nasution, ketika almarhum masih berdinas sebagai tentara. Rata-rata setiap 4 bulan sekali beliau diopname di Rumah Sakit, karena sakit.

Tapi sejak memelihara anak yatim, maka selama 14 tahun, belum sekalipun menderita sakit. “Memelihara anak yatim adalah hiburan rohani karena kasih Allah kepada mereka. Empat belas tahun mengelola anak yatim, tidak pernah mengalami kesulitan. Sering rezeki datang dengan tiba-tiba karena anak yatim mengandung misteri tersendiri disisi Allah, yang bagi orang lain sangat mengherankan”, kilah almarhum.

Bagi orang Islam yang benar-benar faham terhadap- islam dan mau mengerjakannya, mereka semestinyasangat ramah kepada para fakir miskin. Jarang mereka menolaknya bila para fakir miskin datang kepadanya. Mereka menganggap yang diminta para fakir miskin itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nabi Isa AS berkata : “Barang siapa menolak fakir miskin yang meminta, sehingga ia kecewa, para malaikat tidak akan memasuki rumahnya selama 70 hari.” Wall