Kamis, 22 Oktober 2009

Sehari Hidup dengan Rp 4.000
Nyeruput teh dulu di sini, Neng. Panas banget,” ajak Kusnan (47) sambil menuju lapak warung minuman di sudut Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, Selasa (20/10). Setumpuk celana pendek dagangannya disampirkan di sandaran kursi plastik. Tas pinggang dibukanya, hanya tampak empat lembar uang ribuan dan buku catatan kecil kumal.

Kusnan mencomot sepotong tempe goreng dan meneguk teh hangat, makan siangnya hari itu. ”Beginilah, sudah dari jam delapan keliling pasar, baru empat orang yang bayar kredit celana. Kalau lagi untung, setengah hari begini sudah dapat Rp 15.000, bisa makan nasi saya,” katanya.

Kusnan salah satu dari banyak penjual pakaian secara kredit dengan daerah operasi di pasar-pasar dan perkampungan di Jakarta. Selain celana pendek, dagangan mereka antara lain daster, pakaian anak-anak, celana jin, busana muslim, hingga pakaian dalam perempuan.

Konsumen mereka mulai dari pekerja di pasar, pemilik lapak-lapak kecil, hingga ibu-ibu rumah tangga. Harga dagangan mulai dari Rp 10.000 untuk tiga pakaian dalam anak-anak sampai Rp 200.000 untuk satu setel busana muslim plus kerudung atau jilbab. Waktu dan besar cicilan disesuaikan dengan kemampuan konsumen.

Harga celana pendek dagangan Kusnan, misalnya, rata–rata Rp 10.000-Rp 20.000. Yang berminat cukup membayar Rp 1.000 per hari. ”Setiap hari, paling tidak ada satu sampai 20 celana bisa saya jual. Cicilan pertama dibayar saat itu juga. Pemasukan lain dari nagih ke pembeli sebelumnya. Sayangnya, selalu saja ada yang menunggak, bahkan tidak bayar karena pindah atau benar-benar tidak punya uang. Mau ditarik barangnya tidak mungkin, sudah telanjur dipakai,” katanya.

Kusnan menambahkan, ia mengambil celana itu dari perajin konveksi yang juga tetangga sebelah rumah petak kontrakannya, tak jauh dari Pasar Cipulir. Bergantung model, bahan, dan ukuran, celana jualannya dipatok Rp 6.000-Rp 12.000 per potong. Kalau lancar, Kusnan sebenarnya bisa untung Rp 4.000-Rp 8.000 setiap satu celana yang lunas terbayar.

Sekitar enam tahun lalu, Kusnan mengaku memiliki lapak kecil tempat ia dan istrinya berdagang pakaian di dekat Pasar Kebayoran Lama. Namun, nasib membawanya menjadi korban gusuran. Lusinan pakaian dan lapak disita petugas, tak pernah kembali. Tanpa modal, Kusnan kesulitan memulai lagi membuka usahanya.

”Saya sudah dari umur 15 tahun merantau dari Tegal, Jawa Tengah, ke sini. Pernah jadi tukang batu sebelum akhirnya bisa buka lapak. Setelah digusur, istri dan tiga anak saya masih butuh makan. Ya sudah, jadi tukang kredit celana. Pendapatan turun, tetapi antigusuran,” katanya tergelak.

Bagi Kusnan, tidak ada alasan untuk tidak tertawa di sela-sela keletihan akibat berkeliling Pasar Cipulir dan kampung-kampung di sekitarnya. Selasa kemarin, jika nasib baik belum menghinggapinya, dipastikan hanya kurang dari Rp 4.000 yang bisa diberikannya kepada sang istri. Yang penting usaha, tegasnya.

Belum tersentuh

”Mau tidak mau, harus mau. Tidak ada yang menolong. Kucuran kredit dari pemerintah kata Neng? Tidak pernah ditawarkan ke kami. Tempat untuk pedagang kecil saja susah, apalagi bantuan modal. Mungkin karena kami enggak punya, jadi enggak pernah ditanyain maunya apa?” tambah Kusnan.

Pekerja nonformal seperti Kusnan hanyalah segelintir orang yang terselip di antara jutaan warga miskin. Di jalanan Ibu Kota, sudut-sudut perempatan, hingga kolong jembatan, tampak kehidupan orang-orang yang tidak punya jalan keluar menggantungkan hidup dari mengemis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2009, tingkat kemiskinan sekarang mencapai 15,4 persen dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia. Bagaimana mengentaskan mereka dari kemiskinan?

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Apalagi dalam pidato kenegaraan saat dilantik di Gedung MPR/DPR, Selasa kemarin, SBY menekankan bahwa target utama kinerja pemerintahan dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Masyarakat masih menunggu bisakah target periode pemerintahan terdahulu mereduksi angka kemiskinan menjadi 8,2 persen terpenuhi dalam lima tahun ke depan? Lihat saja nanti.



RABU, 21 OKTOBER 2009 | 06:23 WIB

KOMPAS.com -NELI TRIANA)

Jumat, 28 Agustus 2009

DERITA ORANG MISKIN dan KEGELISAHAN ARWAH PEJUANG KEMERDEKAAN

DERITA ORANG MISKIN dan KEGELISAHAN
ARWAH PEJUANG KEMERDEKAAN

Oleh : Togar Lubis

“Orang miskin dilarang sakit, orang miskin juga dilarang sekolah”. Mungkin itulah ungkapan yang tepat sebagai gambaran bagaimana sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan dan mahalnya pendidikan bagi orang miskin di negeri ini. Ternyata, setelah 62 tahun Indonesia Merdeka, apa yang diamanatkan UUD 1945 bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar ditanggung oleh negara” masih sangat jauh dari harapan kita.

Kita sangat terenyuh membaca kisah pedih yang dialami Lailasari dan Udin. Dua orang miskin di ibukota, mengalami kesulitan mendapatkan pelayan kesehatan dari Rumah Sakit hanya dikarenakan status keduanya adalah miskin. Sudah entah kemana perginya rasa perikemanusian dan rasa kepedulian sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, sehingga pada hari pertama Lailasari ditolak 6 Rumah Sakit disebabkan tidak memiliki cukup uang. Rumah Sakit tersebut adalah RS. Budi Asih, RSCM, RSPAD Gatot Subroto, RSAL Mintoharjo, RS. UKI Cawang dan RS. Harapan Kita. Pada Rumah Sakit ketujuh, yaitu RS. Harapan Bunda di Jakarta Timur, akhirnya Muhammad Zulkifri anak dari pasangan Lailasari dan Husin ini diterima dan dirawat.

Nasib serupa juga dialami Udin si orang tua miskin. Anaknya yang sedang sakit bernama Ulis Muslimah dan masih berumur 9 hari, juga ditolak oleh 6 Rumah Sakit hanya dikarenakan status yang disandangnya adalah orang miskin. Diantara Rumah Sakit yang menolak merawatnya adalah RSCM, dan RSPAD Gatot Subroto. Ketika penolakan ini diungkapkan oleh Media, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berang dan mengancam akan mencabut ijin keenam Rumah Sakit tersebut.

Pasien yang ditolak oleh pihak Rumah Sakit disebabkan kemiskinan bukanlah hal yang baru terjadi di negeri ini. Selain penderitaan yang dialami Lailasari dan Udin, masih ada derita Maria Letsoin yang selama 3 minggu hanya bisa melepas rindu pada bayinya dari balik kaca ruangan rumah sakit akibat tidak mampu membayar biaya berobat buah hatinya. Selasa 16 Agustus 2005 lalu, atau satu hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-60, seorang ibu di Semarang bernama Siti Aminah terpaksa harus melahirkan bayi pertamanya di emperan toko emas setelah Puskesmas dan Klinik Bersalin menolaknya karena miskin.

Penderitaan Lailasari, Udin, Maria Letsoin dan Siti Aminah terungkap ke publik mungkin disebabkan penderitaan mereka secara kebetulan terekam oleh berbagai media massa. Masih banyak orang miskin lain yang mengalami nasib yang serupa bahkan mungkin mengalami perlakuan yang lebih buruk, terutama di daerah-daerah Kabupaten/Kota. Program pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin (Gakin) atau Asuransi Kesehatan Miskin (Askeskin) yang dibiayai oleh pemerintah pusat ternyata banyak yang tidak sampai kepada yang seharusnya menerima atau tidak tepat sasaran. Bahkan program ini sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum pejabat di daerah sebagai lahan empuk korupsi untuk memperkaya diri. Puskesmas dan Rumah Sakit milik pemerintah daerah sarat dengan praktek KKN, dari mulai melakukan mark up anggaran sampai dengan penjualan obat-obatan yang seharusnya diberikan gratis kepada pasien keluarga miskin.

Disamping persoalan sulitnya untuk mendapatkan pelayan kesehatan, orang miskin saat ini juga sulit untuk mendapatkan pendidikan, sebab pendidikan telah dikomersialisasikan. Jika komersialisasi pendidikan terjadi di sekolah yang dikelola pihak swasta, mungkin hal itu merupakan hal yang biasa. Namun yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah negeri juga ikut-ikutan latah, padahal gaji guru dan biaya operasionalnya telah ditanggung oleh pemerintah.

Masih segar dari ingatan kita, bagaimana seorang siswa sekolah bernama Fifi Kusrini yang mengakhiri hidupnya secara tragis karena kemiskinan pada hari Jum’at 15 Juli 2005 lalu. Siswi kelas III SMP Negeri 10 Bekasi ini nekat menggantung diri karena kemiskinan orang tuanya. Kekuatan mental Fifi jatuh, ketika teman-temannya mengejeknya sebagai anak tukang bubur. Sebelumnya, tahun 2003 seorang siswa di Sanding, Garut, Jawa Barat, bernama Haryanto juga mengakhiri hidupnya karena kemiskinan. Nasib yang sama juga dialami oleh Eko Haryanto di Tegal, Jawa Tengah, tahun 2004. Tragedi demi tragedi kaum miskin tersebut merupakan bagian dari lembaran catatan hitam negeri yang telah 62 tahun merdeka ini.

Memperbesar alokasi anggaran di sector pendidikan bukan jaminan bahwa tragedi seperti di atas tidak akan terulang lagi. Ketika para koruptor masih terus bebas menggrogoti anggaran di sector ini, maka dapat dipastikan biaya pendidikan akan tetap tinggi. Seperti yang terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tahun 2004 lalu telah dialokasikan anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 43% dari total APBD. Anggaran ini meliputi untuk belanja aparatur daerah pada Pos TK/SDN/SLTPN/SMUN/SMKN, biaya Ujian Akhir Nasional (UAN), Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan pengadaan buku paket untuk siswa sekolah dasar. Namun ternyata disejumlah sekolah anggaran ini tidak disalurkan Dinas Pendidikan kepada pengelola sekolah, sehingga Kepala Sekolah dan Komite Sekolah mengambil kebijakan membebankan biaya-biaya tersebut sepenuhnya kepada siswa. Yang lebih tragis, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat melegalisasi bahkan ikut mengelola penjualan buku paket kepada siswa walau hal tersebut jelas melanggar SK. Mendiknas. Harga buku yang harus dibayar oleh siswa kelas 2 SD mencapai Rp. 30 ribu/buku.

Biaya Kesehatan dan Pendidikan merupakan dua kata yang “sangat menakutkan” bagi orang miskin di negeri ini. Akibat mahalnya biaya pendidikan dan sulitnya mendapatkan pelayan kesehatan, orang miskin mungkin sudah lupa apakah benar bangsa ini telah 60 tahun lamanya merdeka. Orang miskin mungkin baru menyadari bahwa bangsa ini telah merdeka ketika diperintahkan agar mengibarkan bendera merah putih di depan rumahnya.

Pada HUT Kemerdekaan RI ke-60 ini, kita kembali mengheningkan cipta untuk mengenang jasa dan berdo’a bagi arwah para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun alangkah lebih baik, jika sambil mengheningkan cipta kita juga mengingat penderitaan yang dialami orang miskin. Orang miskin juga ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, jadi mereka juga punya hak untuk menikmati arti kemerdekaan. Tidaklah manusiawi, jika orang miskin disanjung dan dikunjung serta dibutuhkan para elit hanya pada saat menjelang Pilkada dan Pemilu.

Kemiskinan bukanlah sebuah pilihan, orang-orang miskin adalah korban ketidakadilan. Orang miskin juga merupakan korban dari orang-orang kaya yang mengeruk kekayaan dengan semena-mena. Korban dari kapitalisme yang sama sekali tidak memberikan proteksi terhadap mereka yang tidak memiliki kapital. Memandang rendah terhadap orang miskin merupakan bukti nyata bahwa bangsa ini belum dapat menghargai mereka yang mencari nafkah secara halal. Disamping itu, hal tersebut juga membuktikan bahwa bangsa kita juga tidak mempunyai empati dan solidaritas sosial.

Tragedi demi tragedi orang miskin yang terus terjadi mungkin akan menyebabkan arwah para pejuang kemerdekaan negeri ini gelisah. Jika mungkin para Syuhada tersebut dapat berbicara, pada saat peringatan HUT Kemerdekaan RI kali ini mereka akan berkata : “penolakan dan penghinaan terhadap orang miskin merupakan penghianatan terhadap pengorbanan dan penjuangan kami”. Bagaimana menurut anda ?. Salam.

* Penulis adalah Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal
(K-SEMAR) Sumatera Utara.
* Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah MELINDO, Edisi 15 – 30 September 2005

Derita Korban Banjir Babelan

Neng, kita yang di kampung lebih susah,” seorang Ibu mengadukan nasibnya kepada saya dengan suara tercekat menahan tangis. Dia memprotes bantuan pemerintah dan warga masyarakat yang hanya dicurahkan untuk korban banjir di Jakarta.

Padahal rumahnya, beserta ratusan rumah desa Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi lainnya masih digenangi air selutut orang dewasa. Sejauh mata memandang, hamparan sawah dan kebun mereka diselimuti banjir.

“Ini masih lumayan. Kemaren bisa segini,” kata Ibu itu sambil menepuk dadanya. Saya terenyuh, delapan hari banjir menenggelamkan rumah mereka, tapi masih bisa mengatakan ’lumayan’. Kenikmatan yang sedikit memang lebih bisa disyukuri, oleh orang-orang yang lama menderita.

Penderitaan itu juga tampak di raut ratusan warga Desa Hurip Jaya yang saya temui di Masjid Istiqomah, Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kamis (8/2/2007). Saya merasa bencana ini begitu menyengsarakan mereka, terutama kaum Ibu dan anak-anak.

”Saya cuma bisa membantu seadanya. Mudah-mudahan makanan jadi dan pembalut wanita cukup,” kata saya kepada mereka.

Walau sedikit bantuan yang saya salurkan itu membuat mereka gembira. Lurah Desa Hurip Jaya HM Sahil menurunkan 200 paket yang saya bawa dari Jakarta.

Saya sampaikan kepada Pak Lurah, bantuan ini memang tidak seberapa, tapi saya berjanji akan ada bantuan susulan. ”Hari Minggu kita akan kirim tim kesehatan untuk mengobati masyarakat sekitar Hurip Jaya,” saya meyakinkan Pak Lurah.

Janji itu harus saya lunasi. Semua kolega, terutama dokter dan para medis, akan saya mintakan bantuan untuk warga desa ini. Desa ini memang langganan banjir, karena lokasinya yang dekat muara Sungai Bekasi dan Sungai Canal Bekasi Laut (CBL). Namun saat musim kemarau, tanah desa menjadi tandus. Bahkan kebutuhan air bersih warga sehari-hari dipasok dari luar dan ditempatkan di tangki-tangki air di pinggir jalan.

Walau relatif dekat, sekitar 20 km, dari Kota Bekasi, tapi air setinggi ban mobil yang masih menggenangi jalan memperlambat waktu tempuh. Ditambah jalan yang melintasi kecamatan itu pun dipenuhi lubang. Persoalan ini menambah derita warga daerah itu. Padahal di Kecamatan Babelan ini berdiri sumur-sumur milik Pertamina yang menyemburkan minyak mentah dan gas bumi.

Namun, hasil tambang yang ditemukan pada 2003 dalam jumlah besar ini seperti tak membawa manfaat bagi warga dan wilayah Babelan.

Selasa, 25 Agustus 2009

Doa Ibu Buat Anak-Anak Negeri

karya: Jalaluddin Rakhmat


Ya Ghaffar, ya Rahim

Kau letakkan di rahim kami anak-anak negeri ini

Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih-sayang kami

kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami

Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami

Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami

Tuhan kami, kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu

kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu

hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami

tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berzikir kepada-Mu

tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu

tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan

meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongan dan kesepian

Kami memoles wajah-wajah kami dengan kepalsuan

membiarkan anak-anak kami meronta dalam kebisuan

Kami terlena memburu kesenangan

sehingga tak kami dengar lagi mereka menangis manja

sambil memandang kami dengan pandangan cinta

seperti dulu, ketika mereka mengeringkan air mata mereka

dalam kehangatan dada-dada kami

Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami

menjadi pemberang, pembangkang, dan penentang-Mu

Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka

keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima kasih

Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Allah

ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami

Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka

dengan dekapan kasih sayang kami

berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka

ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi-Mu

Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu

dan memohon kepada-Mu seusai salat kami

untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak kami

Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu

mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini.

Izinkan kami membasahi tempat sujud kami

dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami

Ya Allah, ya Jabbar, ya Ghaffar

Anugerahkan kepada kami para pemimpin kami kearifan

untuk mendidik anak-anak negeri ini dalam kesalehan

Berikan kepada mereka petunjuk-Mu

sehingga mereka menjadi suri teladan bagi kami dan anak-anak kami

Limpahkan kepada mereka perlindungan-Mu

supaya mereka melindungi kami dengan keadilan-Mu

Jauhkan mereka dari kezaliman

sehingga kami dapat mengabdi-Mu dengan tentram dan aman

Ya Rahman, ya Rahim

Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak-anak kami

Peliharalah anak-anak kami yang kecil

Kuatkanlah anak-anak kami yang lemah

Sucikan kalbu mereka

Bersihkan kehormatan mereka

Sehatkan badan mereka

Cerdaskan akal mereka

Indahkan akhlak mereka

Gabungkanlah mereka bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu

yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci, dan sahabatnya yang

mulia

yang berbakti kepada orangtuanya

yang bermanfaat kepada bangsanya

yang berkhidmat kepada sesama manusia

Wahai Zat yang nama-Nya menjadi pengobat

yang sebutann-Nya penyembuhan

yang ketaatan-Nya kecukupan

sayangi kami yang modalnya hanya harapan

dan senjatanya hanya tangisan

Satria, anak negeri yang terluka





Bercerita tentang Satria, seolah mengenang derita anak negeri yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua dan sosok perjaka yang tak lagi punya air mata. Ia tersisih di antara ratusan ribu anak-anak korban konflik.

Dataran Tinggi Gayo, pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam, kini tak lagi asri sesuai hawanya yang dingin sejuk dan menusuk tulang, yang ada hanya kehampaan, ketakutan dan rasa dendam yang entah sampai kapan berakhir. Begitulah yang dirasa Satria, ketika ia harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Saat ayah tercinta, ditemukan telah menjadi mayat di kebun kopi oleh tetangganya. Ayahnya menjadi korban keganasan konflik yang tak kunjung berakhir.

Ibunya pun tak berdaya, dan rela melepas Satria pada 28 Oktober 2002, yang kala itu masih duduk kelas 3 SD, tuk melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Barat. Namun, harapan menjadi santri yang shaleh pupus, ketika kali pertama Satria tiba di pesantren. Janji manis yang diucapkan kenalan orang tuanya "Pak J" hanyalah janji belaka.

Pak J, menjanjikan sekiranya pesantren yang kelak menjadi tempat sekolah Satria mempunyai 500 siswa dengan fasilitas asrama dan gedung lengkap. Nyatanya, pesantren yang Satria impikan hanya mempunyai beberapa kelas yang masing-masing muridnya 5 orang. Malah Satria tak habis pikir, ketika ia harus mengganti identitas diri dari penduduk Aceh Tengah menjadi Jawa Tengah.

Yang lebih menyakitkan lagi, saat pimpinan pesantren mengajak Satria dan teman-temannya ke salah seorang donatur yang hartawan. Saat itu Satria disuruh tanda tangan surat perjanjian, kalau sekiranya sang donatur memberikan biaya hidup Satria sebesar Rp.500 rb per bulan.

Jumlah murid pesatren semakin menyusut, ada yang kabur atau dijemput orang tuanya hingga akhirnya pesatren benar-benar tutup. Saat itulah Satrio kehilangan arah, kehidupannya pun berubah menjadi musafir. Ia singgah dari mesjid ke mesjid dan terbiasa dengan lapar dan dahaga. Uang Rp.10 ribu baginya cukup untuk hidup sebulan...

serba serbi

KEJAMNYA DIRIMU

Untukmu yang disana ku persembahkan
kata agar kau dapat mengerti perasaan ini..!

Ketika jarak memisahkan kita... K
detar hati tak terbedum.."
kamu yang ku sayang....
pergi tampa sepatah kata...

dalam hati 1001 tanya..trus hadir...
dengan ribuan kenangan...yang masih ada..
akan ku lenyapkan semua kisah cinta ini..


DERITA HIDUPKU

derita hidupku..'
tetesan air mata jatuh lagi..
suka dan duka ku jalani dengan sejuta senyum.

sungguh sakit semua yang ku pedam.
tak seorangpun yang pahami semua ini.
ingin hatiKU pergi jauh..."entah kemana"

dengan setitik harapan yang ku miliki..
akan ku coba bertahan di negeri orang.


PERASAAN YANG TERLUKA

jangan ko buat za begitu.."
jangna ko biarkan za sendiri.
dalam hati ada kata....
sayang yang zasimpan..."

pernah za coba...melupakan semua tenta ko...
tapi tak satu yang berhasil....."
senyum dan tawa trus hadir..
di saat za seorang diri.."

..entah kapan baru za bisa lupakan....
semua kisah ini...."
kisah mencintai DIA yang tra pernah PAHAMI
"perasaan ini.."


BERBAGI RASA INI

4nDai....
ku bisa berbagi...rasa ini..
mungkin apa yang kurasakan
tak seberat saat ini...
ku hanya bisa simpan dalam hati ku.


entah sampai kapan kan berakhir..
ku tak tau pasti...
ku butuh tempat berbagi
ku butuh seseorang yang bisa mengerti dan pahammi semuanya.
ku tak tau kapan,aku bisa terseyum,
seperti dulu lagi"

Minggu, 16 Agustus 2009

Derita Anak Jalanan, Sekedar Mencari Uang Untuk Makan

Kemarin malam saya kebetulan sedang cari tempat makan yang berbeda karena udah bosen semua. Akhirnya cobain deh seafood lautan merah didepan Gedung ANNEX ITB. Skalian ambil uang juga. Hehehe.. Saya kesana ya sekitar abis magrib gitu (tumben sekali biasanya makan malam jam11an). Setelah pesen makan terus cari tempat duduk deh. Ternyata rame juga tu warung. Walaupun harganya agak lebih mahal dibandingkan warung yang lain tapi kebanyakan yang kesana tu orang-orang yang pacaran. Wew..

Belum sampai 5menit duduk, udah ada pengamen yang datang. Menyanyikan lagu diiringi alat musik khas mereka kemudian meminta belas kasihan kepada kita. Hmm.. karena masih ada uang receh saya kasih deh tu pengamen. Kebetulan pengamennya itu dua orang masih kecil-kecil. Kira-kira masih SD. Selang beberapa menit muncul lagi pengamen, kali ini anak kecil sendirian aja dengan tampang dan pakaian lusuh. Ah, saya pribadi dalam hati berkata “koq banyak sih anak kecil yang cari duit dengan mengamen. Terus ibunya itu kemana ya?“. Saya sendiri juga merasa kasian banget deh kalau ada anak kecil yang seharusnya bisa bermain, senang-senang, bisa sekolah, malam belajar dan bercengkerama dengan orang tua, dia malah cari uang dengan ngamen. Akhirnya setelah menunggu agak lama makanan pun datang.

Ketika makan, lagi-lagi datang pengamen. Dan udah ketiga kalinya si pengamen itu adalah anak kecil. Mungkin masih sesama temannya dengan yang tadi, kira-kira masih SD juga. Ah, saya sendiri jadi bingung sampai berapa lagi anak-anak kecil ini akan menghampiri warung ini. Kali ini saya udah kehabisan stok uang. Hehehe.. Akhirnya maap ya dek, ga bisa ngasih. Habis selesai makan, mau bayar, eh lakok masih ada lagi anak-anak yang ngamen lagi. Jadi sepanjang saya makan, ya kira-kira 1 jam gitu udah ada 4 orang ngamen dan itu semua anak-anak. Sedihnya hati ini, kenapa harus mereka yang mencari uang, kemana ibu bapaknya? Sampai-sampai mereka harus mencari uang dimalam hari.

Itu adalah potret realita sebagian kecil anak-anak dibawah usia di kota bandung ini. Belum lagi anak jalanan yang mengais uang dibawah jembatan layang. Ngamen juga dilampu merah. Bagaimana kepedulian Anda Pak Walikota untuk memerangi anak-anak jalanan ini. Apakah tidak ada sarana untuk membantu mereka agar tidak berkeliaran di jalanan. Mohon diperhatikan. Jangan hanya mikir buat mall aja. Pikirkan juga mental generasi mendatang.

Pemimpin dan Amanat Penderitaan Rakyat

Dugaan kecurangan dan berbagai kelemahan penyelenggaraan pemilu sepanjang pasca reformasi ini selalu ada dan hal itu sudah diramalkan banyak pihak. Seharusnya hal tersebut bisa diselesaikan melalui mekanisme yang sudah tersedia dan dapat diterima oleh semua pihak yang berkuasa.

Mulai dari Ayunan Pertama

Sepanjang pemilu Indonesia di masa Orde Baru, meminjam ungkapan Gus Dur, Orde Baru tidak pernah memenangkan Pemilu. Sebab yang mereka lakukan adalah rekayasa Pemilu guna menguntungkan pihak sendiri. Rekayasa itu dilakukan melalui manipulasi hasil pemungutan suara.
Caranya dengan menghitung suara “pihak lawan” dalam Pemilu atau suara yang tidak dicoblos oleh para pemilih, seolah-olah dua pertiga atau lebih sisanya mendukung pihak sendiri. Hal-hal semacam itu sudah bukan rahasia lagi dan saat ini tinggal menjadi kenangan (?) bagi para pemilih.

Pemilu di negeri-negeri demokratis sekalipun tak luput dari kelemahan dan juga kecurangan. Namun mereka selalu memiliki resolusi konflik yang baik dan bisa diterima dalam kerangka demokrasi. Belajar dari negara-negara demokrasi lainnya, mereka yang kalah dalam pemilihan memiliki tempat yang tak kurang terhormatnya dibanding sang pemenang, yakni sebagai oposisi yang mengawal perjalanan pemerintahan selanjutnya.

Demokrasi dan penegakan hukum adalah dua sisi mata uang, dan keduanya harus ditegakkan untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan berkeadilan. Perjalanan demokrasi Indonesia setidaknya sudah dimulai semenjak pengakuan kita atas pemilihan pemimpin secara langsung oleh rakyat dijalankan. Demokrasi memang merupakan sesuatu yang panjang dan berliku, namun sebagaimana sebuah pepatah Tiongkok kuno, perjalanan 10.000 lie (sekitar 5000 km) pastilah dimulai dengan sebuah ayunan langkah pertama.

Kini Presiden baru sudah terpilih. Begitu banyak agenda dan perbaikan bangsa yang harus segera dilakukan. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan, krisis ekonomi, kebudayaan, masalah agama dan pluralitas dan berbagai masalah lainnya saling tumpuk menjadi satu dan membutuhkan pendekatan yang arif dan demokratis dalam mencarikan jalan keluarnya.

Kedaulatan Rakyat

Di sisi lain kedaulatan rakyat seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan dan visi pemimpin terpilih ke depan. Untuk menjadi negara demokrasi sejati, kedaulatan rakyat itulah kuncinya –bukan kedaulatan elit atau kekuasaan uang. Pasangan pemimpin terpilih seharusnya memandang permasalahan kebangsaan ini dengan cakrawala yang luas yang mementingkan seluruh golongan masyarakat.

Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang kuat, tegar, adil dan memiliki orientasi yang jelas berpihak pada rakyat dan bukan kepada pemilik modal. Pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya ukuran sukses pemerintahan. Ukuran utamanya adalah berkurangnya jumlah orang miskin, berkurangnya pengangguran, berkurangnya kebodohan, berkurangnya kerusakan lingkungan hidup, berkurangnya jumlah korupsi, berkurangnya pelanggaran HAM dan kekerasan dalam jumlah yang signifikan.

Ini merupakan syarat-syarat utama perubahan bangsa ini. Keutamaan sang pemimpin bisa dilihat dari kemampuannya menyelesaikan masalah bansga dan keberpihakannya pada masalah-masalah yang dialami oleh rakyat jelata.

Pemimpin terpilih begitu diharapkan untuk benar-benar memiliki keutamaan ini. Keutamaan seorang pemimpin dinilai dari catatan moral dan pengabdian kepada bangsa yang direncanakan dan dilakukannya. Ini amat penting untuk melihat kesungguhan orang yang menjalankan sebuah roda pemerintahan.

Roda pemerintahan akan berjalan dengan baik bila tangan-tangan mereka tidak haus darah. Artinya pemimpin masa depan adalah pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan rakyatnya bukan dengan tangan besi, melainkan dengan hati yang jujur dan tulus.

Ketulusan menjadi dasar seseorang untuk menghantarkan bangsa ini kepada masa depan. Sikap tulus ini tentu harus disertai dengan kecerdasan dalam mengoordinasikan tujuan dan target yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai harus membebaskan masyarakat dari politik adu domba yang kerap dilakukan oleh negara. Negara seharusnya memfasilitasi pertumbuhan nilai-nilai kemanusiaan yang tercermin dalam peradaban para aparaturnya. Aparatur yang beradab selalu mengutamakan tertib sosial dan hukum.

Setiap pemimpin yang terpilih selalu dicita-citakan sebagai pemimpin bangsa masa depan. Karena itu mereka harus berani menegakkan keadilan tanpa melupakan kebenaran. Kebenaran tanpa keadilan tidak akan menciptakan tata dunia baru. Tata dunia baru tercipta bila hukum memiliki kedaulatan di atas kepentingan politik. Politik harus tunduk pada moralitas. Inilah zaman yang diharapkan di mana lembaran baru tercipta demi terwujudnya cita-cita para pendiri bangsa ini.

Amanat Penderitaan Rakyat

Para pemimpin terpilih seharusnya kembali mengingat untuk apa mereka memimpin. Tentu bukan hura-hura karena merasa telah memenangkan kompetisi demokrasi, justru adalah sebuah agenda yang sangat berat. Rasa bersyukur yang berlebihan bukan sesuatu yang elok dipandang.

Menjadi pemimpin bukanlah sebuah hadiah, melainkan amanat penderitaan rakyat. Tentu mereka harus kembali mengingat etika dan tujuan berpolitik. Berpolitik harus menjelma menjadi tindakan untuk melayani masyarakat. Orang yang terlibat dalam politik harus mengacu pada moralitas kemanusiaan dan keadilan.

Politik dan pemerintahan harus menjadikan nilai moralitas publik sebagai acuan. Pemimpin sejati seharusnya meninggalkan keinginan dan nafsu kekuasaan politik sebagai sandaran hidup untuk memperoleh kekayaan. Sebab bila demikian, politik hanya akan menjadi arena investasi belaka: Mengeluarkan berapa dan apa, dan mendapatkan berapa dan apa.

Politik kekuasaan adalah amanat penderitaan rakyat. Pertanyaan buat para pemimpin terpilih ialah bagaimana kita menyikapi kondisi kritis bangsa kita saat ini. Komitmen berbangsa yang dimanifestasikan dalam bentuk kerelaan berkorban secara sungguh-sungguh merupakan salah satu langkah yang mengantarkan bangsa ini mencapai perubahan masa mendatang.

Mengapa tidak belajar dari para pendiri negara ini dalam dalam kentalnya komitmen mereka terhadap pengorbanan lahir batin akan nasib bangsanya. Setiap langkah yang mereka lakukan selalu diarahkan kepada upaya bagaimana rakyatnya hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Hal itu hanya bisa dilakukan bila pemimpin baru sungguh-sungguh berpihak kepada rakyat jelata, rakyat miskin, kaum penganggur. Mereka semua adalah penghuni mayoritas bangsa yang disebut Indonesia ini.

Selamat buat yang terpilih, di tangan Anda bangsa ini dipertaruhkan, dan rakyat dengan setia menunggu realisi janji sebagai bukti, bukan ilusi.

Benny Susetyo
Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik

Kamis, 13 Agustus 2009

Kemerdekaan Berbuah Kemelaratan

Kemerdekaan Indonesia telah diperjuangkan oleh para pahlawan sejak ratusan tahun sebelum dicetuskannya proklamasi 17 Agustus 1945. Banyak pengorbanan rakyat dan para pemimpinnya, baik harta maupun nyawa. Pengorbanan begitu besar, yang tidak menyurutkan semangat dan keberanian dalam menghadapi teror serta kekejaman penjajah Belanda, bahkan mengorbankan semangat api perjuangan.

Rakyat memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang penderitaan, kesengsaraan, kemelaratan, dan kenestapaan di bawah cengkeraman penjajah Belanda. Pengalaman pahit di masa lalu, telah mendorong rakyat bersemangat membebaskan diri dari belenggu kehidupan yang penuh kemelaratan dan kenestapaan, kemudian hal ini dijadikan modal oleh para pemimpin bangsa untuk membakar semangat rakyat berjuang dengan harta dan jiwa guna meraih kemerdekaan.

Memasuki awal abad 19 bermunculan tokoh-tokoh sebagai propagandis, yang mengorbankan semangat meraih kemerdekaan. Bahkan, Soekarno dalam berbagai pidatonya selalu menggunakan semboyan politis dan retorika manis, bahwa jembatan emas terbentang di balik kemerdekaan Indonesia. Ilusi dan mimpi rakyat yang tertindas dibangkitkan begitu rupa dengan slogan-slogan yang mempesona, bahwa di dalam Indonesia merdeka, rakyat akan menemukan kehidupan gemah loh jinawi, toto tenterem kertoraharjo, makmur, aman dan sentosa.

Di bawah slogan kemerdekaan, rakyat akar rumput tidak pernah bertanya kritis, dengan cara bagaimana kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyat kelak akan tercapai. Apakah setelah merdeka, masih diperlukan pengorbanan rakyat, ataukah rakyat tinggal berpangku tangan dan menanti mukjizat dari langit sebagaimana di propagandakan para pemimpin pejuang kemerdekaan? Kemudian, kemerdekaan dengan serta merta menghadiahkan kemakmuran, kesentosaan, keamanan dan kedamaian secara instant seperti cerita lampu Aladin, bim salabim.

Kemerdekaan ke- 62 tahun yang kini tengah dirayakan, ternyata hanya menorehkan kepahitan dan kegetiran bagi mayoritas rakyat negeri ini. Kemiskinan semakin membengkak, pengangguran semakin menumpuk, pendidikan untuk rakyat kecil semakin tidak terjangkau dan jurang kekayaan dengan kemiskinan semakin mengaga. Mengapa semua ini terjadi? Siapa yang harus dipersalahkan? Apa langkah yang selama ini diambil, sehingga hanya menyisakan kesengsaraan dan kemelaratan yang lebih parah bagi masyarakat Indonesia. Dan kapan kondisi yang serba pedih, perih dan menyayat hati ini berakhir? Siapa gerangan yang mampu mengakhirinya, dan dengan cara apa semuanya ini dapat diakhiri?

Sudah dapat dipastikan tidak ada satu pihak pun yang mau bertanggung jawab dan mengakui secara gentelmen atas derita dan nestapa rakyat Indonesia yang telah merdeka 62 tahun berkaitan dengan salah urus negeri ini. Yang jelas selama masa 62 tahun, para pemimpin Indonesia dengan semangat berapi–api telah menyingkirkan Islam dan Syari’at-Nya dari gelanggang pengelolaan negara dan masyarakat, serta membusungkan dada dengan pongah menyatakan bahwa doktrin pemisahan agama dari negara adalah obat mujarab yang akan menghantarkan Indonesia kepada kajayaan, kemakmuran dan kesentosaan.

Tanpa malu dan tahu diri justru golongan nasionalis sekuler dan kaum sekuler yang berkedok Islam terus-menerus berbohong kepada rakyat bahwa negara–negara maju berhasil mendapatkan kemakmurannya seperti sekarang memerlukan waktu ratusan tahun, sedangkan kita baru 62 tahun. Maka wajar dalam negara Indonesia merdeka ini, rakyat harus bersabar menjadi manusia melarat. Inilah bukti bahwa kaum sekuler, baik nasionalis maupun yang berkedok Islam telah mencundangi rakyat serta menjual rakyat untuk membangun mental oportunis mereka.

Mengapa hanya rakyat yang diminta bersabar menerima kemelaratan, sementara mereka menikmati fasilitas negara dengan penuh kemewahan dan berlebihan? Disinilah, sebenarnya kunci penyebab dari kemerdekaan Indonesia membuahkan kemelaratan, karena pemimpinya adalah manusia bermoral bejat, bermental serakah dan berjiwa oportunis hanya mengejar kesenangan nafsu. Selama pemimpin Indonesia bermental semacam ini, maka tidak ada harapan mayoritas rakyat dapat dientaskan dari kemelaratanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa jalla, “ Dan apabila kami menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, maka kami angkat orang–orang yang berlaku boros menjadi penguasa, lalu mereka berbuat durhaka kepada rakyatnya, karena itu mereka berhak mendapat adzab, lalu kami binasakan mereka hingga musnah. “ (Terj. Qs. Al Isra’ 17 : 16)

Maka jalan keluar yang harus menjadi pilihan bagi rakyat Indonesia adalah membersihkan negara dan pemerintah dari kaum oportunis, penjual rakyat, dan penjilat kaki tangan kepentingan asing. Untuk diganti dengan orang–orang yang memiliki jiwa takwa kepada Allah, cinta kepada rakyat, hidup menjauhi kemewahan dan mengajak rakyat untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi. Inilah satu–satunya jalan untuk membebaskan rakyat Indonesia dari ketatnya pakaian, kelaparan, serta himpitan hidup sengsara.

“Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pasti kami curahkan pada mereka ramat dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat kami itu, maka kami siksa mereka akibat perbuatanya. “ (Terj. Qs Al A’raf 7 : 96)

Sebagai upaya konstruktif memperbaiki kepemimpinan Indonesia, agar mendapatkan figur-figur yang bertanggung jawab, baik kepada Allah maupun kepada rakyat, telah tersedia jalan damai bagi rakyat Indonesia. Bahkan, mahkamah konstitusi menetapkan, rakyat boleh memilih pemimpinya dari kalangan independent. Dalam kaitan ini para pemimpin gerakan Islam di Indonesia selayaknya tampil untuk berkiprah mengentaskan rakyat Indonesia dari kemelaratan dan kenestapaan yang telah menggelayuti negeri ini 400 tahun lebih, sejak datangnya penjajah Belanda hingga kini.

>>???<<

kukayuh sepeda kehidupan ini dalam pekat malam yang kian larut....disekitarku sudah sepi...tak da lagi orang lalu lalang...apalagi yang mau menawarkan bantuan....
tapi dengan semangat yang kian redup aku treus mencoba mengayuhnya...walau dengan keringat berseliweran di sekujur tubuhku...atau kulit tanganku yang kian melepuh....atau dengan otot kakiku yang seakan tak kuat lagi menanggung semua beban ini....

kulihat di kejauhan sana seekor kucing melintas perlahan....kucing hitam....bulu kudukku tak sanggup lagi menahan keinginannya buat berdiri....apalagi dtemani suasana malam ini yang begitu dingin....takut... sambil terus kukayuh sepedaku aku mengamati si kucing..dari matanya yang sayu aku dapat menangkap suatu kesimpulan bahwa si kucing juga sedang mengalami apa yang kurasakan...mungkin saja dia juga kesepian...mungkin saja dia seharian belum makan...atau mungkin sedang merasakan kerinduan yang luar biasa pada keluarganya....

sreeettt.....tiba2 kucing hitam itu menatapku.....tapat di kedua mataku...DEG !!! aku tak kuasa menhan degup jantungku yang kian menggila...tatapan kucing itu begitu tajam menusuk....aku tak sanggup manatapnya lama2....segera kukayuh sepedaku semakin cepat...cepat...cepat...dan cepat.....di tikungan aku menatap ke belakang...penasaran....tapi...ternyata si kucing sudah tidak ada di tempatnya lagi....

dengan perasaan yang kian merasa sepi dan bingung....aku kembali mengayuh....perjalanan kehidupan ini semakin terasa kian panjang....kupandang langit....hitam...

tes..tes...aku marasakan tetesan air dingin di lenganku yang terbungkus sweter biru tua....kembali kutatap langit dengan khawatir...langit kelihatan tambah kelam...tetesan air yang semula perlahan lama lama kian sering dan akhirnya menjadi hujan....
terpaksa kubelokkan sepedaku...kebetulan di deket sana ada halte bis....sepi....
setelah menyandarkan sepeda bututku....aku melayangkan pandangan mata ke sekelilingku...di pojok halte seperti ada sesuatu....aku menajamkan pandangan mataku...seperti seonggok kardus....kembali kuamati lebih jauh....kok....???